Kamis, 12 April 2012

           Baca Surah Usai Wudhu'

          ini adalah bid'ah, karena tidak ada sanadnya dalam sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Adapun hadits berikut, maka ia adalah maudhu' (palsu) dengan rincian berikut:

          "Barang siapa yang membaca seusai wudhu', inna anjalnahu fi lailatulqadri'. sebanyak satu kali, maka ia tegolong shiddiqin. Barangsiapa yang membacanya dua kali, maka ia terdaftar dalam golongan syuhada'. Barang siapa yang membacanya sebanyak tiga kali, maka Allah mengumpulkannya dalam kumpulan para nabi." [HR. Ad-Dailamiy dalam Al-Fidaus].

         Hadits ini palsu, karena ada seorang rawi yang majhul (yakni, Abu Ubaidah), atau karena  rawi yang ada di bawahnya. Ciri kepalsuan hadits ini amat jelas padanya. selain itu, Al-Hasan Al-Bashriy juga meriwayatkannya secara mu'um anah, sedang ia mudallis. oleh karena itu As-Sakhowiy menilai hadits ini tidak ada asalnya. [Lihat Adh-Dho'ifah (no 1449) karya Al-Albaniy]

sumber : dikutip dari Buletin Islam At-Tauhid edisi 250 tahun ke-5

Mengusut Sejarah Toga

 
    
         
       Siapa yang tak kenal toga? Semua orang pasti mengenal dan pernah melihat toga. Toga adlaah baju panjang (jubah) hitam, lengannya lebar sebagai pakaian jabatan bagi para guru besar, hakim,sarjana, dan sebagainya, yang dipakai pada saat tertentu.

          Pakaian  yang satu ini berasal dari bangsa romawi kuno dan termabil dari kata latin tego (pakaian penutup). pakaian toga semula dipakai oleh para pembesar bangsa romawi, lalu berkembang menjadi pakain kehormatan yang bukan saja dipakai oleh mereka, bahkan rakyat pun ikut memakai sebagai pakaian kehormatan saat menghadiri acara-acara tertentu. 

            Toga semula berupa sehelai kain wol yang seukuran kira-kira 6 meter (20 kaki) yang dililitkan di sekeliling badan dan umumnya digunakan setelah mengenakan cawak dan tunik (baju dalam) yang kerap terbuat dari linen. 

       Toga diyakini telah telah ada sejak zaman Kaisar Romawi yang kedua, Numa Pompilius (753-673 SM) yang menjadi pengganti bagi kaisar Romulus. Numa adalah murid dari Pythagoras.Di saat itu toga telah menjadi pakaian para raja dan masyarakat Romawi sebagai pakaian seharian.

         Seiring berlalunya wkatu, gaya berbusana pun berganti. Bangsa Romawi mengadopsi baju yang dikenal tunica. Pakaian inilah yang menggeser toga sebagai pakaian keseharian saat melakukan pekerjaan dan tugas yang membutuhkan kegesitan. Dahulu toga merupakan pakaian masyarakat Romawi pada umumnya, namun saat itu berubah menjadi pakaian seremonial dan kehormatan kalangan masyarakat Romawi, khusunya di kalangan para pembesar dan pejabat mereka untuk menunjukkan jenjang kekuasaan.


Toga terus berkembang sehingga lahirlah berbagai macam nama dan bentuknya, misalnya Toga Virilis, Toga Candida, Toga Praetexta, Toga Picta dan Toga Trabea dan lainnya. Toga sering dipakai dalam acara-acara kehormatan dan hari raya bangsa Romawi.

Di Indonesia, toga berupa jubah digunakan oleh para cassock (Imam Katolik), para geneva grown (Pendeta Protestan), para akademisi saat wisuda, dan para hakim dalam persidangan.

Usai menelisik dan mengusut beberapa untaian sejarah toga, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa toga adalah pakaian yang berasal dari peradaban barat dalam hal ini Romawi, lalu menjadi tradisi pada pemuka agama kaum Nashrani (Kristen) dan sarjana barat.

Penting juga diingat juga bahwa dalam sejarah, para sarjana barat berasal dari kalangan gereja. Sebab telah menjadi tradisi mereka, yang memiliki akses pada ilmu pengetahuan adalah kalangan agamawan. Jika dicermati, sampai sekarang kalangan gereja masih mempertahankan pakaian toga sebagai pakain bagi para pemimpin-pemimpin agama mereka.

Satu hal amat tragis,pakaian ini diadopsi oleh para sarjana muslim yang mengekor dan menyerupai sarjana barat, yang notabene Kristen!!

Lebih parah lagi dari semua itu, kini pakaian toga dipakai oleh para santri yang telah menamatkan bacaan Al-Qur’an!!! Saungguh tragis, para Ustadz dan pengasuh taman pendidikan Al-Qur’an mendidik anak-anaak islam agar menjadi pejuang islam, namun di sisi lain diajari untuk meniru pakaian para Pendeta dan Pastor. Bukanlah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam- telah melarang kita untuk mengikuti ahlul kitab dalam perkara-perkara yang sudah menjadi cirri khas mereka dalam beragama?!! Ingat, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabd,

Betul-betul kalian akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal,  demi sejengkal, dan sedepa demi sedepa sampai walaupun mereka memasuki lubang dhobb (sejenis biawak), maka kalian akan mengikuti mereka”. Kami (para sahabat)  bertanya, “wahai rasulullah, (maksudnya) mereka adalah kaum yahudi dan nashrani?!!” berliau bersabda, “siapa lagi kalau bukan mereka!” [ HR. bukhari Kitab Al-I’tishom (7320) dan muslim dalam Al-Ilm (2669)].

Hadits ini merupakan permumpaan bagi kita bahwa kaum muslimin akan terperosok jauh ke dalam banyak penyimpangan. Salah satunya, kaum muslimin membeo dan meniru kaum kafir dalam kebiasaan dan perbuatan yang menjadi syi’ar-syi’ar kekafiran dan kefasikan mereka. Sampai pada suatu kondisi terburuk, kaum muslimin mengikuti mereka walaupun harus melakukan sasuatu dan tidak masuk akal, mereka tetap mengikuti dan meniru kaum kafir.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy  -rahimahullah- berkata, “makna yang tampak (dari hadits ini), pengkhususan hanya terjadi pada lubang dhobb, karena sempit dan buruknya lubang dhobb. Walaupun demikian, maka mereka (kaum muslimin) demi mengikuti jejak-jejak dan jalan hidup kaum kafir, maka andaikan pun kaum kafir  masuk ke dalam lubang yang sempit lagi buruk ini, maka kaum muslimin pasti mengikuti mereka”.

 
Toga yang sudah menjadi pakaian dan symbol bagi orang-orang kafir tak boleh kita tiru. Apalagi jika pakaian itu memiliki makna sakral di sisi mereka atau menjadi syi’ar-syi’ar bagi agama dan peribadatan mereka. Jika kita hadir dalam acara wisuda, maka kita pasti teringat dengan para pendeta dalam gereja. Namun anehnya, kaum muslimin menganggap berpakaian ala pendeta dan pastor sebagai perkara yang biasa-biasa saja. Padahal agama telah memerintahkan kita untuk memusuhi dan membenci semua kekafiran dan syi’ar mereka. Sebab allah membenci kekafiran dan syi’ar-syi’ar yang mengingatkan kita tentang kekafiran


Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu(QS. Az- Zumar : 7)

Ahli tafsir jazirah arab, Al-Allamah Ibnu Nashir As-Sa’diy –rahimahullah- berkata, “Allah tidak menyukai kekafiran karena kesempurnaan baiknya Allah dan pengetahuannya bahwa kekafiran akan mencelakakan mereka dengan suatu kecelakaan yang mereka tak akan berbahagia setelahnya dan karena Dia menciptakan mereka untuk beribadah kepadanya. Ibadah itulah tujuan penciptaan makhluk. Lantaran itu, Allah tak meridhoi kalau mereka meninggalkan sesuatu (ibadah) yang mereka diciptakan karenanya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 719-720),].

Memakai toga mengandung pernyerupaan diri dengan orang-orang kafir. Sedang nabi shallallahu alaihi wa sallam- melarang kita dari menyerupakan diri dengan mereka,

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut” (HR. Abu Dawud (4031).

Syaikhul Silam Ad-Dimasyqiy –rahimahullah- berkata, “hadits ini serendah-rendahnya mengharuskan pengharaman tasyabbuh (menyerupai orang kafir atau fasiq)”. 

Syaikh Bakr Abu Zaid –rahimahullah- berkata,”Dosen penguji dating sambil memaki jubah alias toga hitam. Ini adalah sikap taklid kepada kaum gerejawan dalam menguji tesis. Wajib bagi orang-orang berilmu dan beriman untuk tidak menyelisihi mereka dalam hal itu”. [ Lihat At-Ta’alum (Hal 89)].

Usai membawakan sejumlah dalil haramnya menyerupai orang kafir, para ulama timur tengah yang tergabung dalam Al-lajnah Ad-Da’imah Lil Buhts Al-Ilmiyah Wal Iftaa’ mengeluarkan fatwa bersama, 

Dengan dasar itu, tak boleh memakai pakaian yang disebut “toga” ketika lulus dari sebuah sekolah atau pesantren ataukah perkuliahan. Karena, pakain itu termasuk pakaian Nashrani (Kristen). Wajib bagi seorang muslim untuk berbangga dengan agamanya dan keteladanannya kepada Nabi Muhammad –Shallallahu Alaihi Wa Sallam- dan tak usah punya perhatian untuk taklid (meniru) orang-orang yang Allah murkai dan sesatkan dari kalangan bangsa Yahudi dan Nashrani serta yang lainnya”. 

Sumber : Dikutip dari Buletin islam At-Tauhid (manhaj) edisi 250 tahun ke-5





Rabu, 07 Desember 2011

Bergaul  
yang Shalih

    Abul Barakat ra. mengatakan, " Termasuk akhlaq mulia dalam pergaulan dengan saudara adalah slalu meperhatikan setiap yang mendukung keshalihan saudara tersebut, bukan setiap keinginannya. berusaha menunjukkan dan membimbingnya meniti jalan keselamatan, bukan pada setiap yang dicintainya." [Adabul Isyrah]

sumber : majalah tasfhiyah edisi 10
Pacaran Islami ???
        Gak Kaleeee....!!!!

Hari gini nggak punya pacar??kuper!!!
Begitu kata orang zaman sekarang. Nggak terkecuali, muda mudi islam pun ikut meramaikan fenomena yang sebenarnya merupakan imbas dari liberalisme dan sekularisme ini. Bagaimana tidak? Acara-acara TV, program-progrma radio, serta media masa lainnya ikut berkontribusai dalam melegalkan budaya yang diimpor dari barat ini. Ditambah lagi, syaithan juga ikut melambai-lambaikan panji syaheat kepada musuh abadinya: Bani Adam.
Padahal kita semua mesti tahu bahwa islam punya aturan sendiri dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang harus diindahkan. Kalo nggak, ya tanggung sendiri akibatnya kelak.
          Salah satu aturan terbesar yang digariskan oleh allah yang maha bijaksana adalah : “ dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya hal itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” [Q.S. al-isra : 32]. Kata Ibnu Kautsar (w.774H) allah disini melarang zina dan mendekatinay, yakni melakukan sebab-sebab dan faktor yang bisa menjuruskan kepada zina. Nah mendekati saja dilarang, apalagi sampai melakukannya. Faktanya, betapa banyak pemuda-pemudi yang pacaran yang ujun-ujungnya zina dan diakhiri dengan MBA (marriage by accident, nikah karena ‘kecelakaan’ alias hamil diluar nikah). Dengan melihat fakta ini, jelas dong kalau pacaran itu nggak boleh dalam islam.
Nggak Cuma memperantarai maksiat, dalam pacaran itu sendiri banyak didapati didalamnya maksiat. Sering kita lihat di jalan-jalan dan ditempat publik seseorang menggenggam tangan perempuan tanpa ikatan pernikahan. Padahal hal ini dilarang oleh rasulullha lho. Rasulullah bersabda ; “ sungguh, ditusuk kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi labih baik daipada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” [H.R. Ath-Thabarani, Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani].
Di sisi lain, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram tidak boleh lho. Rasulullah mengancam orang melakukan perbuatan ini : “ sungguh, tidaklah seorang laki-laki berduaa dengan seorang perempuan, kecuali yang ketiganya adalah syaithan.” [H.R. At-Tarmidzi, Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani].
Sobat, itu tdai dosa yang bisa dipanen ketika coba-coba  bermain-main dengan pacaran. Intinya, pacaran dan dosa itu sudah satu paket. Nah lo, mau?
Bukan Jomblo Biasa
Nah, dilatari hal di atas, sebagai  remaja muslim, sudah sepantasnya kamu melestarikan status ‘jomblo’ kamu sebelum menikah. Nggak perlu malu dikatain kuper, nggak laku, atay bahkan gak normal. Cuek aja lagi. Orang ngelakuin maksiat aja gak malu ngelakuin maksiat, kamu yang melakukan ketaatan harusnya nggak malu dong. Yang penting, allah tahu bahwa kamu meniggalkan pacaran hanya karena cin ta kepada-nya.
Lagian, orang yang jomblo cenderung lebih berprestasi lho daripada orang pacaran. Kenapa? Karena orang yang jomblo biasanya lebih bisa fokus daripada orang yang pacaran. Orang yang pacaran biasanya fokus kepada pasangannya saja. Dia paling tahu warna favorit, makanan favorit, honi, dan tetek bengek mengenai sang pacar. Giliran dia ditanya soal pelajaran , nggak tahu apa-apa. Makanya, nggak logis kalau pacaran diklaim sebagian orang bisa memberi semangat belajar. Justru pacaran bisa menggembosi semangat kamu. 
Ta’aruf vs Pacaran
Lho, terus bagaimana caranya kta mengetahui calon pasangan kalau tidak boleh pacaran? Berarti kita seperti beli kucing dalam karung dong? Sobat, syariat ini sudah sempurna. Hal ini sudah diatur dalam agama kita. Bagaimana caranya? Ta’aruf jawabannya.
Apa sih ta’aruf itu? Ta’aruf adalah mengenal calon pasangan tanpa melewati hal-hal yang tidaj diperbolehka agama. Ta’aruf dilakukan melalui pihak ketiga yang amanah dan terpercaya. Orang ingin mencari pasangan bertanya kepada orang yang mengenal calon pasangannya, bukan berkenalan langsung dengan calon pasangannya. Hal ini pernah dilakukan oleh seorang sahabat wanita, Fathimah binti Qais. Beliau berkata kepada Rasulullah  “ wahai Rasulullah, sesungguhnya Mu’awiyah dan Abu Jahm melamarku’ rasulullah pun mengatakan, “adapun Abu Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkat dari tangannya (sering memukul atau sering melakukan perjalan jauh, ed.) sedangkan Mu’awiyah, dia miskin tidak memiliki harta.” [H.R. muslim]
                Dalam ta’aruf juga diperbolehkan melihat fisik wanita yang hendak kita lamar. Hal ini dinamakan dengan nazhar. Namun, tentu saja tidak semua fisik wanita tersebut bisa kita lihat. Kata sebagian ulama, batasan yang boleh dilihat adalah anggota wudhu saja. Tapi, melihat kepada fisik calon pasangan pun tidak boleh berlama-lama karena tujuan dari hal ini hanyalah sebatas agar mantap dalam memilih pasangan, bukan untuk menikmati memandang wanita yang bukan mahram. Rasulullah bersabda kepada seorang sahabat yang hendak melamar seorang wanita , “ lihatlah dia, karena hal itu lebih bisa membuat langgeng antara kalian berdua.” [H.R. Ahmad, At-Tarmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani]
Nah, dari sini dipahami, tidak benar orang-orang yang memahami bahwa pacaran sama dengan ta’aruf. Ta’aruf nggak boleh disertai dengan syahwat dan hal-hal yang tidak diperbolehkan syariat, allahu a’lam bish shawab. [abdrhmn]

sumber :
(dikutip dari : majalah Tashfiyah edisi 10 hal :58)