Rabu, 07 Desember 2011

Pacaran Islami ???
        Gak Kaleeee....!!!!

Hari gini nggak punya pacar??kuper!!!
Begitu kata orang zaman sekarang. Nggak terkecuali, muda mudi islam pun ikut meramaikan fenomena yang sebenarnya merupakan imbas dari liberalisme dan sekularisme ini. Bagaimana tidak? Acara-acara TV, program-progrma radio, serta media masa lainnya ikut berkontribusai dalam melegalkan budaya yang diimpor dari barat ini. Ditambah lagi, syaithan juga ikut melambai-lambaikan panji syaheat kepada musuh abadinya: Bani Adam.
Padahal kita semua mesti tahu bahwa islam punya aturan sendiri dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang harus diindahkan. Kalo nggak, ya tanggung sendiri akibatnya kelak.
          Salah satu aturan terbesar yang digariskan oleh allah yang maha bijaksana adalah : “ dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya hal itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” [Q.S. al-isra : 32]. Kata Ibnu Kautsar (w.774H) allah disini melarang zina dan mendekatinay, yakni melakukan sebab-sebab dan faktor yang bisa menjuruskan kepada zina. Nah mendekati saja dilarang, apalagi sampai melakukannya. Faktanya, betapa banyak pemuda-pemudi yang pacaran yang ujun-ujungnya zina dan diakhiri dengan MBA (marriage by accident, nikah karena ‘kecelakaan’ alias hamil diluar nikah). Dengan melihat fakta ini, jelas dong kalau pacaran itu nggak boleh dalam islam.
Nggak Cuma memperantarai maksiat, dalam pacaran itu sendiri banyak didapati didalamnya maksiat. Sering kita lihat di jalan-jalan dan ditempat publik seseorang menggenggam tangan perempuan tanpa ikatan pernikahan. Padahal hal ini dilarang oleh rasulullha lho. Rasulullah bersabda ; “ sungguh, ditusuk kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi labih baik daipada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” [H.R. Ath-Thabarani, Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani].
Di sisi lain, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram tidak boleh lho. Rasulullah mengancam orang melakukan perbuatan ini : “ sungguh, tidaklah seorang laki-laki berduaa dengan seorang perempuan, kecuali yang ketiganya adalah syaithan.” [H.R. At-Tarmidzi, Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani].
Sobat, itu tdai dosa yang bisa dipanen ketika coba-coba  bermain-main dengan pacaran. Intinya, pacaran dan dosa itu sudah satu paket. Nah lo, mau?
Bukan Jomblo Biasa
Nah, dilatari hal di atas, sebagai  remaja muslim, sudah sepantasnya kamu melestarikan status ‘jomblo’ kamu sebelum menikah. Nggak perlu malu dikatain kuper, nggak laku, atay bahkan gak normal. Cuek aja lagi. Orang ngelakuin maksiat aja gak malu ngelakuin maksiat, kamu yang melakukan ketaatan harusnya nggak malu dong. Yang penting, allah tahu bahwa kamu meniggalkan pacaran hanya karena cin ta kepada-nya.
Lagian, orang yang jomblo cenderung lebih berprestasi lho daripada orang pacaran. Kenapa? Karena orang yang jomblo biasanya lebih bisa fokus daripada orang yang pacaran. Orang yang pacaran biasanya fokus kepada pasangannya saja. Dia paling tahu warna favorit, makanan favorit, honi, dan tetek bengek mengenai sang pacar. Giliran dia ditanya soal pelajaran , nggak tahu apa-apa. Makanya, nggak logis kalau pacaran diklaim sebagian orang bisa memberi semangat belajar. Justru pacaran bisa menggembosi semangat kamu. 
Ta’aruf vs Pacaran
Lho, terus bagaimana caranya kta mengetahui calon pasangan kalau tidak boleh pacaran? Berarti kita seperti beli kucing dalam karung dong? Sobat, syariat ini sudah sempurna. Hal ini sudah diatur dalam agama kita. Bagaimana caranya? Ta’aruf jawabannya.
Apa sih ta’aruf itu? Ta’aruf adalah mengenal calon pasangan tanpa melewati hal-hal yang tidaj diperbolehka agama. Ta’aruf dilakukan melalui pihak ketiga yang amanah dan terpercaya. Orang ingin mencari pasangan bertanya kepada orang yang mengenal calon pasangannya, bukan berkenalan langsung dengan calon pasangannya. Hal ini pernah dilakukan oleh seorang sahabat wanita, Fathimah binti Qais. Beliau berkata kepada Rasulullah  “ wahai Rasulullah, sesungguhnya Mu’awiyah dan Abu Jahm melamarku’ rasulullah pun mengatakan, “adapun Abu Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkat dari tangannya (sering memukul atau sering melakukan perjalan jauh, ed.) sedangkan Mu’awiyah, dia miskin tidak memiliki harta.” [H.R. muslim]
                Dalam ta’aruf juga diperbolehkan melihat fisik wanita yang hendak kita lamar. Hal ini dinamakan dengan nazhar. Namun, tentu saja tidak semua fisik wanita tersebut bisa kita lihat. Kata sebagian ulama, batasan yang boleh dilihat adalah anggota wudhu saja. Tapi, melihat kepada fisik calon pasangan pun tidak boleh berlama-lama karena tujuan dari hal ini hanyalah sebatas agar mantap dalam memilih pasangan, bukan untuk menikmati memandang wanita yang bukan mahram. Rasulullah bersabda kepada seorang sahabat yang hendak melamar seorang wanita , “ lihatlah dia, karena hal itu lebih bisa membuat langgeng antara kalian berdua.” [H.R. Ahmad, At-Tarmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani]
Nah, dari sini dipahami, tidak benar orang-orang yang memahami bahwa pacaran sama dengan ta’aruf. Ta’aruf nggak boleh disertai dengan syahwat dan hal-hal yang tidak diperbolehkan syariat, allahu a’lam bish shawab. [abdrhmn]

sumber :
(dikutip dari : majalah Tashfiyah edisi 10 hal :58) 


1 komentar: